Kegiatan nge-trip akhir-akhir ini begitu sangat populer di kalangan anak muda. Seperti yang terjadi di sekitar saya, setiap liburan tiba saat akhir pekan ataupun libur nasional mereka menyusun rencana melakukan perjalanan liburan. Dari tempat wisata yang ada di dalam kota, sampai keluar kota. Terkadang perjalanannya ditempuh dengan mengendarai motor jika sekiranya masih bisa di jangkau dengan lama perjalanan sekitar 1-2 jam, sesekali mereka sengaja menyewa mobil dan melakukan perjalanan cukup panjang sampai seharian penuh.
Entah istilah nge-trip itu mulai beken di kalangan masyarakat sejak kapan, kalau menurutku sih sejak ada acara “My Trip, My adventure” yang tayang setiap akhir pekan di salah satu stasiun tv nasional, setiap minggunya acara itu mengeksplor keindahan wisata alam yang dimiliki Indonesia yang kebanyakan masih jarang di jamah wisatawan dan dengan berbagai jenis medan perjalanan yang terkadang cukup ekstrim untuk mencapainya. Tantangan seperti itu lah yang membuat acara mereka semakin seru untuk di tonton. Selain itu bagi para jiwa-jiwa petualang, seakan terpanggil jiwa nya untuk juga mencoba dan merasakan keseruan perjalanan menuju destinasi wisata alam tersebut.
Sabtu, Maret 05, 2016
Nge-Trip Berbuah Hikmah Perjalanan
Jumat, Maret 04, 2016
Butuh Jutaan Cangkir Kopi Susu
Malam ini memang terasa cukup dingin, selain karena hujan yang sempat turun senja tadi juga karena perasaan gugupku membuat tanganku cukup merasa dingin. Entahlah malam ini pakaian yang aku kenakan bertema hitam, seperti sebuah tanda bahwa nanti akan berakhir gelap bagi kami berdua.
Sekitar pukul 7 malam kami bertemu di sebuah resto sederhana yang cukup terjangkau harganya. Suasana resto itu penuh dengan warna orange cerah. Namun tidak dengan perasaanku yang diliputi keraguan dan ketakutan untuk mengatakan sesuatu padanya. Kami duduk berhadapan, namun aku menghadap kursi kosong di sampingnya, begitu juga dia yang menghadap kursi kosong di sampingku. Dua meja kotak kecil yang didekatkan rapat dan 4 kursi plastik dengan bahan cukup berkualitas di tata saling berhadapan itu terasa membuat jarak kami sangat dekat meski bukan duduk berdampingan.
Setelah pesanan kami datang, kami hanya mengobrol hal-hal ringan. Satu porsi chicken crispy dan secangkir kopi susu itu telah tersaji di depanku. Aku sangat antusias meminum kopi susu di depanku, namun karena masih panas,aku menikmati terlebih dahulu makananku.
Minggu, Februari 21, 2016
Kami Bodoh Karena Cinta?
Banyak
orang yang bilang kalau kita jatuh cinta pasti sering melakukan hal-hal bodoh
yang sebelumnya belum pernah kita lakukan, bahkan sampai melakukan hal-hal yang
dulu kita benci. Ada banyak juga yang bilang kalau cinta itu buta, sehingga
membuat pelaku jatuh cinta ini melakukan hal-hal yang benar-benar sampai diluar
dugaan atau bahkan sampai melakukan hal tak masuk akal. Memang menurut
penelitian, saat seseorang jatuh cinta bagian-bagian rasional dari otak manusia
tertutup.
Ada
yang jatuh cinta pada seseorang bahkan rela menunggu bertahun-tahun tanpa
kepastian, mungkin itu juga bisa disebut cinta buta. Ada juga mereka yang mencintai
seseorang dengan sepenuh hatinya dan bahkan takkan mau menjalani hidup kalau
bukan dengan dia. Baginya dunia itu hanya ada pada sosok yang ia cintai. Mereka
pun sering menutup hati saat kenyataan menyadarkan mereka bahwa takdir memang harus
memisahkan mereka. Sering ada sosok yang mencoba membuka hatinya namun tak
selalu berhasil.
Terkadang
memang hati dan cinta itu terasa sangat penuh misteri. Ada hati yang bahkan tak
pernah melirik lingkungan sekitarnya, saat sebenarnya ada satu sosok yang
selalu membersamainya, melakukan banyak hal untuknya, rela mendengarkan setiap
cerita bahagianya atau bahkan mendengar ribuan keluh kesahnya. Tetapi hati itu
hanya melihat satu sosok yang ia cintai, hanya berjalan menuju yang ia cintai
meski yang ia cintai berjalan semakin jauh seperti mengejar bayangan diri saat membelakangi matahari, tak akan berujung. Mereka yang selalu hadir dan ada bahkan kerap
kalah dengan mereka yang tak selalu ada namun tersimpan dalam hati seseorang
sebagai yang “Istimewa”. Saat yang “Istimewa” itu tak melakukan apa-apa pun untuk
kita, mereka selalu menjadi yang”Istimewa”.
Bodoh
memang hati itu, namun apa kita bisa menyalahkan hati. Dia selalu berjalan
semaunya, merasakan apa yang memang harus dirasakan meski kadang mengherankan
logika. Hati kadang sering menyakiti dirinya sendiri karena tak mau percaya
pada logika meski sedikit. Kau tahu, kadang kita harus mengalahkan hati kita
dengan logika hanya untuk melindungi hati kita agar tak lebih jauh lagi
terluka.
Maafkan
kami jika telah menjadi orang yang bodoh karena cinta yang ada di hati kami. Kamu
yang mungkin sempat berjuang memasuki hati seseorang yang masih mencintai orang
lain, maafkan kami jika pada akhirnya kami masih merasa sulit untuk benar-benar
menerimamu masuk ke dunia kami. Terkadang kau memang harus sedikit bersabar
pada kami jika memang cinta yang kau punya adalah tulus, bantu kami menciptakan
kenangan baru yang lebih indah. Dan buat kami perlahan-lahan membuka pintu hati
ini untuk kau yang selalu membersamai kami, melakukan banyak hal untuk kami,
dan rela menunggu sedikit lebih lama untuk kami. Jika kau memilih menyerah dan
pergi karena kami tak kunjung menerimamu dalam hati kami, anggaplah kami ini
orang-orang yang bodoh...
~Inspirasi Kala Senja dan Hujan
menyapa, dan Kau mulai pergi dari sisi hidupku~
Kamis, Februari 11, 2016
Harapan
Harapan
itu sesuatu yang benar-benar memiliki kekuatan ajaib. Ia mampu membuat manusia
bersemangat menjalani hidup. Namun terkadang ia mampu melemahkan dan
menumbangkan manusia itu sendiri. Ada yang bilang “gak usah berharap yang
muluk-muluk dalam hidup”. Tapi bukankah jika kita tak punya harapan kita tak
bisa hidup, tak ada semangat dalam menjalani hidup. Karena harapan itu sendiri
adalah bagian dari fitrah seorang manusia yang tak mungkin bisa ditinggalkan.
Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia yang tak memiliki harapan adalah manusia
yang mati, karena dengan harapan manusia akan bisa lebih berkembang menjadi
manusia yang lebih baik.
Senin, Februari 08, 2016
Menulis dan "Kamu"
Aku suka menulis, kau tahu itu. Meski aku belum jadi penulis terkenal dengan karya buku best seller yang menghiasi rak buku toko buku besar. Salah satu mimpiku ingin sekali bisa membuat sebuah buku novel fiksi maupun nonfiksi. Aku selalu dan ingin tetap ingin menjadikanmu sebagai inspirasiku. Jika saja kau tahu apa yang aku sering catat di buku diaryku. Benar-benar penuh dengan semua hal tentangmu. Seperti terasa kau adalah inspirasi terbesarku.
Rabu, Januari 13, 2016
Kado yang Tertunda
Sekitar 5 menit berlalu aku sampai ke warung mi ayam
pangsit yang ia maksud. Setelah hampir sampai di depan warung itu, aku
melihatnya sudah duduk di kursi pembeli sambil mengembangkan senyumnya padaku.
Aku segera mamarkirkan motor matic ku.
Segera ku menghampirinya.
“Assalamu’alaikum,
sudah lama?” sambil tersenyum ramah.
“Wa’alaikumsalam, baru kok. Mau milih tempat yang mana?”
“Di dalem aja ya.” Aku menunjuk salah satu bangku yang berada di dalam warung itu.
“Wa’alaikumsalam, baru kok. Mau milih tempat yang mana?”
“Di dalem aja ya.” Aku menunjuk salah satu bangku yang berada di dalam warung itu.
Kami duduk menghadap tembok, dengan meja yang
terkesan kecil dan menempel tembok, lebarnya sekitar 50 cm namun cukup panjang
hampir 2 meter. Kami duduk bersebelahan, namun ada jarak satu kursi dari tempat
duduk kami. Tempat itu tak cukup ramai, hanya ada 3 orang pembeli termasuk
kami, dan seorang penjual wanita yang sudah memiliki cukup banyak kerutan di
wajahnya, berambut ikal pendek dan mengenakan blouse lengan pendek serta celana
abu-abu pendek selutut. Wanita itu mendekati kami dan bertanya, “Mau pesan apa?
Mi ayam, bakso, atau mi bakso?”
“Aku mi ayam saja, kamu apa?” Rafa memandangiku sambil menanyaiku.
Mataku spontan melihat ke kanan atas dan akhirnya menjawab, “aku sama, mi ayam saja. Minumnya teh anget aja ya bu.”
Wanita itu bertanya lagi pada Rafa, “Lha masnya minumnya apa?.”
“Aku es teh aja bu.” Jawab Rafa sambil mengakhirinya dengan senyum. Dan wanita itu meninggalkan kami.
“Aku mi ayam saja, kamu apa?” Rafa memandangiku sambil menanyaiku.
Mataku spontan melihat ke kanan atas dan akhirnya menjawab, “aku sama, mi ayam saja. Minumnya teh anget aja ya bu.”
Wanita itu bertanya lagi pada Rafa, “Lha masnya minumnya apa?.”
“Aku es teh aja bu.” Jawab Rafa sambil mengakhirinya dengan senyum. Dan wanita itu meninggalkan kami.
Sabtu, Januari 02, 2016
Apa Kita Jodoh?
“Apa Kita Jodoh?”
Kata
itu beberapa kali melintas di benakku setelah aku selesai membaca novel
berjudul “JODOH” karya Fahd Pahdepie. Menurutku ceritanya menarik, seru dan
konfliknya juga tidak membuat pembaca bosan, serta akhir ceritanya cukup
membuat aku berkata “wah akhirnya, ini yang dimaksud jodoh olehnya”. Selain itu
yang membuat menarik adalah sinopsis dari novel ini sendiri.
Apa itu Jodoh?
Barangkali imajinasimu tentang jodoh dan belahan jiwa
begitu sederhana: di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang disana, yang
tengah menunggumu untuk berlayar.
Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu
sehingga sering kali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kau
nantikanitu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan
mengarahkan kompasnya untuk menjemputmu.
Langganan:
Postingan (Atom)



